Sudah lebih dari seribu patah kata yang saya ucapkan ke kamu saat itu.
Sudah lebih dari puluhan obat yang saya telan.
Sudah ratusan hari saya lewati tanpa kamu.
Rasa sakitnya masih tetap ada.
Biar waktu yang menyembuhkan, katanya.
Dari hari ke hari,
Dari bulan ke bulan,
Saya masih bisa merasakan sakitnya.
Persis seperti saat semuanya terjadi.
Saya sudah move on.
Saya sudah punya kehidupan yang jauh lebih baik dari segi manapun.
Tapi saya tahu saya belum sembuh sepenuhnya.
Dengan semua hal yang terjadi, masih hidup saja sudah bersyukur.
Mungkin sama seperti kecelakaan fisik yang sangat fatal.
Beberapa bagian di diri saya mati, tidak berfungsi lagi.
Obat yang saya konsumsi, membuat saya lupa sebagian besar memori saya terhadap kamu.
Tapi sayangnya, saya tidak berhasil melupakan kejadian yang amat menyakitkan itu.
Rasa lupa membuat saya tetap hidup.
Tapi, sakit ini akan saya bawa seumur hidup.
Fakta bahwa saya dikhianati orang yang paling saya cintai (saat itu), harus diterima.
Seperti pil besar yang sulit untuk tertelan, rasanya masih tersangkut di tenggorokan.
Sangat sakit,
Sangat pahit,
Sangat menyesakkan.
Saya selalu penasaran hal apa yang membuatmu begitu tersakiti dengan adanya saya.
Hingga kamu begitu ingin menyingkirkan saya.
Tapi, tidak usahlah.
Kamu memang ingin pergi saja.
Sejak awal, tak seharusnya saya menahan siapapun yang mau pergi.
Rasa sakit ini akibat saya terlalu mencintai orang lain.
Rasa sakit ini akibat saya buta karena merasa dicintai, padahal tidak.
Kamu berhasil.
Selamat karena sudah berhasil membuat saya berpikir saya berharga untukmu.
Selamat karena sudah berhasil membuat saya berpikir saya dicintai olehmu.
Selamat karena saya tidak tahu sampai akhir kalau semuanya hanya pura-pura.
Saya selalu berusaha mencegah kamu untuk menyakiti saya.
Ternyata, kamu begitu keras melindungi orang lain, sampai saya yang tersakiti.
Dan, kamu terlihat sangat menikmati rasa sakit yang saya alami.
Kelak, jika situasi dan kondisi mempertemukan saya dan kamu secara tidak sengaja.
Kamu harus tau, saya tidak bisa memaafkan kamu.
Karena memaafkan dengan tulus hanya untuk orang yang saling mengenal.
Waktu bersama kamu (saat itu) adalah waktu terpanjang aku bisa merasakan kebahagiaan, sekaligus..
Waktu paling panjang, untuk punya rasa sakit yang tidak akan pernah usai... Dan tidak berujung.
0 komentar:
Posting Komentar
Comment?