Kamu bilang, aku yang terakhir.
Aku juga bilang, terakhir, untuk apapun yang aku lakukan.
Tapi faktanya, aku tidak pernah bisa untuk mengakhiri.
Dan kamu bisa.
Aku selalu berandai-andai.
Kehidupan kita berdua tanpa adanya kehadiran sosok lain.
Sialnya, kamu yang membuka pintu lebar-lebar.
Kamu menyambutnya layaknya tamu yang harus diperlakukan dengan nyaman.
Hingga akhirnya dia tidak menyadari tempatnya.
Dan bahkan menempati rumahku.
Aku selalu meyakinkan diriku bahwa kamu sama.
Aku selalu meyakinkan diriku di hati kecil kamu masih ada secercah harapan.
Begitu tau fakta yang sebenarnya.
Dan bagaimana kamu merencanakan ini semua.
Bagaimana kamu sangat berusaha mendekatinya.
Bagaimana kamu sangat berusaha menutupi hubungan kalian.
Bagaimana kamu sangat berhati-hati untuk tidak ada yang mengetahui tentang kita.
Terlalu banyak hal yang kamu salahpahami.
Terlalu banyak hal yang kamu pahami sendiri.
Aku selalu ingin berdiskusi.
Aku selalu ingin menyelesaikan masalah kita, hanya kita.
Tapi kamu enggan mempercayaiku.
Kamu mendengar kata-kata dari orang lain setiap hari.
Padahal, yang bermasalah adalah kita.
Ketika aku tahu.
Bahwa kamu benar-benar berniat untuk mengkhianati.
Rasanya semua menjadi sia-sia.
Aku tidak pernah mencintai orang setulus ini.
Aku tidak pernah begitu mengharapkan kehadiran seseorang sebesar ini.
Aku tidak pernah juga memikirkan ada orang selain kamu.
Aku tidak pernah berpikir kamu akan meninggalkanku untuk orang lain.
Pun aku tidak pernah berpikir untuk meninggalkan kamu.
Aku ingin kamu marah denganku.
Sehingga aku bisa menjelaskan dan agar bisa kamu pahami.
Bagaimana mungkin kamu paham pemikiranku, sedang kamu tidak pernah mendengar?
Orang yang dulu sangat menjagaku.
Dia adalah orang yang sama dengan orang yang sangat membuat hidupku hancur.
Mengapa harus singgah jika hanya ingin menghancurkan?
Mengapa harus kamu lakukan jika kamu tau itu menyakiti?
Hubungan itu tidak akan terjadi jika tidak ada timbal balik.
Hubungan itu mustahil dilakukan jika salah satu pihak tidak menginginkannya.
Dengan fakta seperti ini saja, aku sudah cukup hancur menerima fakta bahwa aku benar-benar dikhianati oleh orang yang aku pikir sangat baik.
Kamu mungkin membenciku.
Tapi, kamu tidak tahu di setiap tidurmu aku selalu menyempatkan diri untuk memelukmu dan mengatakan bahwa aku menyayangimu dan selalu mendoakan kebahagiaan untukmu. Kamu tidak tahu, hanya aku dan Tuhan sebagai saksinya.
Kamu menunjukkan sisi burukmu.
Aku belajar untuk menerimanya.
Tidak aku katakan sama sekali kepadamu karena aku tidak ingin menyakitimu.
Aku hanya menerimanya.
Bukannya aku tidak pernah kesal.
Bukannya aku tidak pernah marah.
Aku hanya tidak menunjukannya.
Ironisnya, saat aku tunjukkan sisi burukku.
Tidak ada yang bisa kamu terima.
Satu pun.
Kamu sibuk memikirkan betapa jahatnya perlakuanku.
Tidak pernah sekalipun aku memikirkan perlakuan burukmu yang membuatku lelah. Aku tidak pernah memikirkan cara untuk melepaskan diri dari kamu.
Sejak hari pertama aku menerima kamu.
Aku tahu aku akan menerima keseluruhan yang ada pada dirimu.
Tapi kecurigaanku tidak sekuat itu.
Harusnya aku sadar bahwa kamu bukan orang yang kuat diajak bersusah payah.
Seharusnya aku sadar bahwa yang kamu inginkan dalam suatu hubungan hanyalah kebahagiaan.
Yang menurutku itu adalah hal mustahil.
Aku tahu kekuranganmu.
Aku tidak pernah memaksamu untuk berubah.
Aku menutupinya tanpa pernah kamu sadari.
Dari segala hal yang telah kulakukan dan kukorbankan.
Kamu hanya bisa melihat hal buruk yang ada di dalam diriku.
Tanpa pernah kamu membicarakannya.
Mungkin kamu pikir aku hanya menginginkan sesuatu darimu.
Mungkin kamu pikir aku mengekang kebebasanmu.
Mungkin kamu pikir aku orang yang menyakitimu dengan kemarahanku.
Tidak semua yang kamu pikirkan itu benar adanya. Kamu hanya tidak pernah peduli mengapa.
Sejak hari pertama di mana kamu mengambil potret dirinya.
Aku benar-benar menganggap kita (akan) selesai.
Aku takut itu terjadi.
Aku terus mencoba untuk menasihati kamu.
Tapi kamu terus sibuk dengan semua itu.
Harusnya aku sadar sejak kamu tidak peduli keadaanku saat aku sakit.
Harusnya aku sadar sejak kamu tidak lagi menghapus air mataku saat aku menangis.
Harusnya aku sadar sejak kamu tidak pernah lagi menuliskan kata-kata kangen.
Harusnya aku sadar sejak kamu tidak pernah lagi memakan apa yang aku siapkan untukmu.
Harusnya aku sadar sejak kamu tidak pernah memanggilku dengan panggilan sayang, pun tidak membalasnya.
Harusnya aku sadar sejak kamu lebih mementingkan hpmu di saat aku menangis.
Harusnya aku sadar sejak kamu rela tidur lebih pagi hanya untuk berhubungan dengan orang lain.
Harusnya aku sadar sejak kamu meninggalkanku di sebuah toko sendirian, sedang kamu tahu aku akan panik dalam keramaian.
Ya Tuhan, aku terlalu banyak bersabar untuk kamu.
Aku sibuk mencari cara untuk memperbaiki hubungan ini.
Kamu sibuk membangun pondasi hubungan yang baru.
Aku sibuk menjaga hatiku agar tetap untuk kamu.
Kamu dengan mudahnya memberikan itu ke orang lain.
Aku berharap kamu mendengarkan aku.
Tapi kamu membuka telinga lebar-lebar untuk orang lain.
Aku harap kamu percaya aku.
Tapi kamu lebih percaya orang lain.
Aku harap kamu mau memperbaiki.
Ternyata kamu lebih memilih untuk meninggalkan dan memulai yang baru.
Hubungan yang aku pikir bisa kujaga seumur hidupku ini, selesai seperti ini.
Sangat berantakan.
Akan aku kutip sedikit lagu Day6 yang benar-benar menggambarkan kondisiku.
Bagaimana kamu bisa terlihat baik-baik saja?
Bagaimana kamu bisa terlihat sangat bahagia?
Sedangkan kamu menginjak-injakku dan meludahiku setiap hari.
Saat aku melihat senyummu, aku sudah tahu itu senyum yang dulu pernah kamu berikan untukku, dan sekarang untuk orang lain.
Apa dia lebih baik dariku?
Apa dia menghapus semua kenanganku darimu?
Iya, kebahagiaanmu adalah yang terpenting.
Tapi tidak, aku tidak akan membohongi perasaanku.
Mengapa aku harus mengharapkan kebahagiaanmu?
Disaat kamu adalah orang yang meninggalkan dan mengkhianatiku?
Benar-benar, wow, selamat..
Ini tidak membutuhkan waktu yang lama.
Kamu tersenyum lebar di media sosialmu, apa kamu bahagia?
Bagiku, hatiku masih merasakan sakit di setiap helaan napas.
Tapi bagusnya, kamu tidak akan merasakan sakit.
Karena jika suatu hari kalian putus, kamu akan mencari cinta yang baru lagi.
Selamat, bagaimana bisa kamu melakukan ini?
Selamat, kamu tidak akan pernah kembali kepadaku.
AKU BAHKAN TIDAK MENGHARAPKANNYA.
Aku tidak tahu seberapa baik hidupmu tanpaku.
Pergi dariku, anggap aku tidak pernah ada.
Kamu sudah jatuh cinta.
Aku juga tidak menginginkan apapun lagi.
Terima kasih untuk pengkhianatan yang kamu lakukan.
Aku masih mencoba untuk menerimanya.
0 komentar:
Posting Komentar
Comment?