Rabu, 15 Juli 2015

Aku Si Boneka Beruang

Hari ini seperti biasa aku duduk di sudut kamar. Kulihat Naya sedang sibuk dengan handphone miliknya. Matanya terlihat sendu menatap layar yang menyala. Naya membeliku dari sebuah toko boneka sekitar 10 tahun yang lalu.  Aku memang bukan satu-satunya boneka untuknya, tapi aku adalah boneka yang paling besar. Aku memang tidak selucu, seindah boneka-bonekanya yang lain. Badanku paling besar, hingga Naya bisa memelukku sampai tertidur. Aku adalah tempat ternyaman untuk Naya saat tidak ada satupun orang yang mau mendengarkannya.

Beberapa bulan ini Naya tidak pernah menyentuhku. Aku hanyalah tempat jatuhnya air mata Naya saat dia bersedih. Aku merindukannya. Sampai aku ingin dia merasa bersedih untuk suatu hal, hanya agar dia bisa menyentuhku kembali.

Tuhan berpihak kepadaku, setelah mematikan hpnya, Naya memanggilku, "Teddy!". Dia memelukku erat. Napasnya tidak beraturan, dia menangis tersedu-sedu. Ya, Nay, aku akan selalu ada untukmu kapanpun kau ingin memelukku, kapanpun kau ingin menumpahkan semuanya kepadaku. "Ted, pria itu menyakitiku. Tetapi aku terlalu mencintainya. Hingga aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan." Dia terdengar sangat tersakiti dan sangat kesal.

Aku ingin hidup. Aku ingin memeluk Naya bukan sebagai sebuah boneka beruang. Aku ingin Naya mendengar semua kepedulianku terhadapnya. Tapi, aku hanyalah sebuah boneka. Sekeras apapun aku berteriak, Naya tidak akan mendengarku. 

Kau hanya terlalu takut untuk menghadapi kehidupanmu sendiri, Nay. Kau berpikir tak apa kau tersakiti asal pria bajingan itu tetap bersamamu. Kau pikir itu sebuah kesetiaan, tapi itu bukan, Nay. Kesetiaan itu membahagiakan, bukan sebaliknya. Pria itu menyakitimu bukan hanya saat ini, sudah terlalu banyak dan kau menganggap dirimu kuat? Kau salah, Nay. Kau terlalu lemah hingga tak berdaya saat seorang yang kaucintai menyakitimu dan hanya bisa pasrah dengan kata "setia" yang terbenam di kepalamu.

Kau terlalu ironis. Kau bilang kau sangat bahagia, lain waktu kau datang kepadaku dengan makian terhadap pria itu. Pria itu hatinya bercabang, tapi karena cinta, kau bersikeras berpikir dia setia. Parahnya lagi, kau pun pernah berselingkuh dan marah ketika selingkuhanmu berselingkuh lagi. Kau lupa saat pria itu mencacimu idiot hanya karena kau sering berbicara kepadaku. Itulah sebabnya, Nay, saat kau sedang berbahagia dengan pria itu, aku berdebu.

Sekarang, kau memelukku dengan sangat erat. Aku tahu kau sakit. Tapi, aku juga tahu kau tidak pernah mencintai dirimu sendiri. Kau lebih mencintai orang lain hingga kau pikir tak perlu mencintai dirimu sendiri. Tak apa kau tersakiti, asal kau masih bisa mencintai orang itu. Aku memang hanya sebuah boneka beruang. Aku sebuah benda yang kau peluk dengan segala kesedihanmu. Tapi, sesungguhnya ketika aku berdebu dan melihat kau bahagia, itu berkali lipat lebih baik dibandingkan saat kau menyentuhku dengan kesedihan yang sama.

Aku memang tak ingin dilupakan olehmu, oleh sebab itu aku meminta kepada Tuhan agar Dia memberimu setetes kesedihan. Tetapi aku marah kepada Tuhan, kenapa Dia meneteskan kesedihan dari cairan yang sama? Jika aku tahu tempat-Nya menyimpan cairan itu, aku berjanji akan memusnahkan cairan itu, Nay, agar kau tidak diberi tetesan yang sama lagi oleh-Nya. Mungkin aku konyol, maaf, aku hanya sebuah boneka. Apapun yang dipikirkan olehku, tak akan ada artinya di mata kalian para manusia. 

Naya tertidur dalam pelukanku. Tetapi tanganku copot, kepalaku compang-camping. Badanku robek dan busaku tercecer di kamarnya. Naya merusakku malam ini. Aku rasa ini adalah malam terakhirnya memelukku. Akupun sudah rusak. Tak ada gunanya Naya menyimpanku lagi di kamarnya. Aku sedih sekaligus senang, aku bersedih karena Naya bersedih. Aku senang karena Naya merusakku, sehingga tak ada lagi alasan untuk bersedih. 

Karena besok, aku akan dibuang. Dari awal Naya membeliku, aku tahu pada akhirnya aku hanya akan menjadi sampah. Sekarang, waktunya sudah tiba..

END




Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Comment?