Senin, 29 Agustus 2016

Mengerti Juga Butuh Waktu

Gue punya sahabat, namanya Marsha. Dulu, waktu pertama kali masuk SMP, pernah sekelas, tapi gak pernah respek. Karena di mata gue dia gak lebih dari anak-anak yang suka banget belajar dan gue gak gitu hahaha :'D

Kita ketemu lagi di kelas 8, dan gak nyangka aja kalo pada akhirnya bisa jadi temen deket. Kita bisa deket karena ada suatu kejadian dimana kita kayak saling comblangin satu sama lain (?). Dari situ mulai ngobrol, bercanda, dan curhat. Ya, gue akui. Kalo lo gak pernah curhat sama orang lain, lo gak-akan-sedeket-itu sama mereka. Ada dua jenis rahasia di dunia ini, rahasia yang boleh dibuka, dan yang gak boleh dibuka. Tapi, ada misteri di dalam rahasia.

Rahasia bisa bikin lo tambah deket sama sahabat lo, dan rahasia juga yang bisa bikin lo punya hubungan yang gak baik dengan sahabat lo sendiri.

Gue seneng banget ngabisin masa SMP dengan banyak temen yang menyenangkan. Dan memang, kebahagiaan itu gak berlangsung lama. Jarak kebahagiaan dan kesedihan hanya sebatas perkara sudah selesai atau belumnya senyum yang ada di wajah.

Kita sahabatan berenam. Dan, ya, mereka manusia-manusia absurd yang bisa bikin gue keluar sedikit dari bilik-bilik introvert. Bikin nama samaran alay tapi terlihat keren pada waktu itu. Seperti, Einstein, untuk gue yang mengagumi Einstein. Marsha, dengan Archimedesnya. Anis dengan A. Graham Bell, dan lain-lain. Marsha-lah yang selama ini gue anggep bisa mengontrol diri gue, padahal dia paling muda :'). Dia bisa bikin gue dengerin nasihatnya dia (meskipun dia gak pernah tau sih kalo gue dengerin dia). Baru setahun kita berenam main bareng, ngerasain semangatnya sekolah karena lo tau hari lo bakal dihabiskan dengan siapa.. Tapi, di hari terakhir kita main bareng, Marsha ngabarin mau pindah ke Surabaya.

Bisa apa ya? Gak bisa apa-apa tentunya, selain menjaga komunikasi. Sewaktu dia di Surabaya, hubungan kita masih baik-baik aja. Dan setiap bulan setiap tanggal 27, kita saling kasih selamat satu sama lain, karena kita sama-sama lahir di tanggal 27. Marsha, 27 Februari, gue 27 Juli. Jadi, kasih ucapan semacam, "Happy 27, selamat 20 tahun 3 bulan :p" Aneh sih, but it's okay if she's your best, minimal ada komunikasi di setiap tanggal 27 setiap bulannya :)

Setelah dia pindah, kita berenam pun bubar jalan. Masing-masing dengan jalannya sendiri. Dan sampai saat ini pun tersisa MarshAnis yang masih setia, disini. Persahabatan itu bukan sesuatu yang bisa dipaksa. Tanpa kita bersusah payah, alam akan menyeleksi siapa yang terbaik dan siapa yang layak. Untuk seorang ambivert kayak gue, yang 60% adalah introvert, persahabatan itu untuk seumur hidup. Lagi, cara orang memandang itu semua pasti berbeda, sama seperti tiap orang pasti berbeda memandang "cinta".

If you think that's important, fight for it or leave it.



Setelah beberapa tahun di Surabaya, dia pindah ke China. Lagi-lagi berasa sedih, tapi gak bisa ngelakuin apapun juga. Tapi, karena komunikasi yang baik, kita pun ngerasa tetep gak ada jarak. Percaya gak? Yang jauh bisa terasaa begitu dekat hanya dengan komunikasi. Tapi bahkan yang dekat akan terasa amat jauh jika tidak ada komunikasi sama sekali.

Setiap tahun ketemu cuma satu kali, atau dua kali. Tapi tetep aja berasa itu quality time. Karena lo bisa ngerangkum setahun hidup lo buat diceritain di sekali pertemuan itu :))) atau bahkan 2 tahun? Atau bahkan dari zaman SMP?

Sahabat itu, bisa liat apa yang gak bisa dilihat oleh orang lain. Ketika orang lain ngeliat diemnya gue adalah sebuah kewajaran. Justru sahabat gue yang tanya, apa ada yang salah? Apa ada masalah? Lo kenapa? Entah, tapi gue merasa damai begitu tau setidaknya ada orang yang ngerti lo selain diri lo sendiri.

Sahabat itu mau mengerti, mau mendengar, meskipun masalah yang akan kita bahas sudah bertahun-tahun lalu. Dia tetap mendengarkan, walau bukan nasihat yang ingin didapat, tetapi dua telinga sudah cukup membuat hangat.

Sahabat itu,  mereka yang dapat membuat secangkir kopi seolah habis dalam 3 jam, namun waktu terasa berlalu 5 menit.

Sahabat itu bukan orang yang selalu pengen lo ajak ketemu. Sahabat itu bukan orang yang "lo harapkan" akan ketemu. Tapi sahabat akan saling ingin bertemu disaat yang bersamaan. Bukan sekedar basa-basi, bukan sekedar perihal menunggu, mengajak. Tapi karena, "Ayo ketemu, gue mau cerita dan gue juga mau denger cerita tentang lo."

Pertemuan dengan orang lain itu bukan hanya perkara bertatap muka lalu mengobrol, tetapi juga punya makna tersirat, "Ayo habisin waktu bareng."

Sahabat itu, yang nggak canggung nanyain pendapat lo apa yang harus dia lakuin. "Menurut lo gimana? Gue lakuin nih apa yang lo bilang sekarang." Lucu sih karena keputusannya terburu-buru, tapi terima kasih sudah percaya meskipun itu bukan hal besar :)

Gue terinspirasi nulis ini karena waktu singkat yang terjadi tadi siang sampai sore sebelum kita berdua sibuk sama kegiatan masing-masing. Maaf belum bisa kasih sesuatu yang berarti ataupun ngajak lo jalan-jalan makan macem-macem pas lo lagi di Jkt, someday I will :p

Thanks for being my bestf, Sha. Lafff <3 p="">
Share:

2 komentar:

Comment?