Kamis, 08 Februari 2018

Hidupku Ternyata Milikku

Sejak dulu, gue selalu punya prinsip, bahagiakanlah orang lain maka kita juga akan ikut bahagia. 

Selama ini gue selalu melakukan segala yang gue bisa untuk orang lain, iya, untuk membahagiakan mereka. Hal sekecil apapun yang gue bisa, udah pasti gue lakuin untuk mereka.

Gue sering banget denger kata-kata ini dari temen gue, "Bisa gak sih lo jadi orang gak usah terlalu baik sama orang lain?"

Dulu gue sempet tersinggung sih, karena gue mikir, apa salahnya sih baik sama orang lain? Kalo emang mereka niatnya manfaatin yaudahlah, yang penting udah baik sama orang itu.

Itu baru sama orang lain. Belum lagi sama temen deket gue.

Saat yang lain bilang sibuk karena capek atau males, gue gak pernah.
Saat yang lain bilang mereka gak kumpul karena gak punya uang, gue tetap dateng dengan selembar yang tersisa.
Saat kalian begitu hebohnya merayakan hari ulang tahun yang lain, sekalipun gue gak pernah bahas, pun gak pernah absen untuk hadir ketika diminta.
Gue melakukan itu cuma karena satu alasan, kalian penting. Kehadiran orang terdekat selalu lebih penting dari apapun, untuk gue.

Gue gak pernah minta balasan apapun dari kalian, sebenarnya.
Tapi, setidaknya satu hari aja dalam hidup gue, bisa gak gue mengabadikan salah satu momen paling bahagia gue dengan orang-orang terdekat gue? Ternyata gak bisa. Hal yang paling sederhana dan paling mudah pun gak ada yang ngelakuin itu. Disaat aplikasi chatting begitu berlimpah, kuota dan wifi dimana-mana, ngasih kabar masih jadi hal yang berat.

Semuanya memang terkesan ga perlu dibahas karena takut disalahartikan jadi pamrih. Tapi, entah kenapa rasanya semenyakitkan itu. Orang-orang yang paling gue percaya selama bertahun-tahun bisa bikin gue kecewa sedalam ini.

Setiap gue punya keinginan, jawaban gue selalu melibatkan orang lain. Contohnya, "Gue mau ini supaya (subject) bisa seneng.." 

Herannya, kenapa gue selalu berusaha menyenangkan semua orang? Padahal gue tau itu gak akan berhasil.

Saat gue udah begitu menganggap orang lain sepenting itu di kehidupan gue. 
Tapi, bahkan saat gue hampir mati pun mereka nggak ada kan? 
Bahkan saat yang gue butuhkan cuma sekedar ucapan 'cepet sembuh' dan semangat dari kalian supaya gue tetap kuat, gue ga dapet itu. Kenapa? Apa sulit?

Apa karena hal-hal yang gue lakuin buat orang lain tuh teramat kecil sampe gak terasa? 
Apa karena gue gak pernah menunjukkan apa yang gue rasa di depan orang lain?
Apa karena gue pasti akan memaafkan orang lain yang penting untuk gue?
Apa karena gue sesepele itu?

Gue selalu percaya apa yang gue yakini ini benar, bahwa memperlakukan seseorang yang kita sayang dengan sungguh-sungguh itu gak pernah buruk. Mengusahakan segalanya untuk mereka itu gak pernah terasa berat.

Tapi mungkin itu cuma gue, yang tersadar kalo hidup gue milik gue sendiri.

Saat mengingat ke belakang, yap, ternyata bener-bener berat sampe gak ada satu hari pun gue lalui tanpa ga kepikiran untuk berhenti hidup aja.

Sekarang, gue cuma pengen bahagia dengan jalan yang gue pilih. Gak masalah kan kalo gue sedikit melupakan mereka yang sudah lebih dulu melupakan?

Gue gak mau lagi membahagiakan semua orang. Gue cuma mau membahagiakan satu orang saat ini, yaitu gue sendiri. Biarlah setidaknya gue merasa tenang beberapa saat dengan hanya segelintir orang.

Gue akan mencoba jadi orang baru yang lebih baik lagi, dengan pandangan dan tekad yang jelas, dengan tujuan yang mesti tercapai tanpa terganggu kanan kiri lagi. Karena toh orang lain gak akan sepeduli itu.

Semoga kalian beruntung, dan gue tetap seneng karena menjadi salah satu bagian dari kalian. 

Selamat berjuang untuk masa depan masing-masing, semoga kelak kita semua bisa ketemu lagi dalam keadaan yang lebih baik dan kehidupan yang jauh lebih sukses daripada hari ini.

Aaamiin!


Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Comment?