Sabtu, 25 Agustus 2018

Melawan Arus

Gue kaget ketika buka halaman blog, dan posting terakhir ternyata bulan Maret. Padahal udah berusaha janji ke diri sendiri mau posting setiap bulan. Ya, namanya juga rencana manusia :')

Bulan Juli kemarin gue menutup kisah gue di Bandung dengan bahagia. Karena bertepatan dengan ulang tahun gue yang dirayain anak-anak dan gue yang ngehedon di awal bulan nyobain segala kafe di jejeran depan komplek, berakhir dengan uang yang udah habis di tanggal segini. Lha, ini cerita mau dibawa ke sedih apa bahagia ya?

Ada beberapa hal yang menjadi bahan pertimbangan gue untuk mengajukan pengunduran diri. Tentunya hal itu gak bakal gue sharing di sini lah hehe. Gue sempet berpikiran bahwa gue bakal menghabiskan waktu gue di Bandung tuh 2 - 3 tahunan sih,  tapi ternyata berakhir dalam waktu 7 bulan aja. Gak betah? Betah bangeeet! Siapa sih warga Jakarta (yang terbiasa dengan panas terik matahari dan polusi) yang nggak betah di Bandung dengan suhu rata-rata 24 - 26 derajat di siang hari? Sejuk banget! Jalan-jalan jam 7 pagi aja udah bunyi kratak-kretek di gigi karena kedinginan. Ah, rindu suasananya euy.

Balik lagi.

Quarter Life Crisis. Itu yang gue baca sepenggal dari twit orang-orang. Katanya mendekati umur 25 kita bakal mengalami hal-hal yang nggak kita sangka kayak mau jadi apa ya? Mau ngapain ya? Mau kerja apa mau kuliah lagi? Dan sebagainya. Itu adalah hal yang gue rasain saat ini. Sebelumnya nggak ada kepikiran bakal mengalami hal ini sih, tapi ya karena rencana yang nggak berjalan lancar, gue jadi kepikiran lagi. Ditambah, 2 hal yang harus hari-hati lo pilih adalah profesi dan jodoh. Karena keduanya bakal ada di hidup lo untuk selamanya, SE-LA-MA-NYA.

Jodoh? Yaudahlah ya nggak usah dipikirin dulu. Ada yang lebih penting dari itu, yaitu profesi. Kenapa gue bilang lebih penting? Karena kalo lo ketemu seseorang yang emang udah jodoh, yaudah 3 bulan juga bisa kok langsung nikah kalo emang sama-sama ada kecocokan. Tapi kalo profesi, sekalinya salah pilih, seumur hidup lo harus bisa mencintai hari-hari di mana lo ngga mau kerja, tapi hidup tetap butuh uang! Menguras energi dan nggak menyenangkan sama sekali. 

Kalo ditanya mau jadi apa, gue pasti jawab, mau jadi pengusaha. Karena apa? Bisa kaya? Banyak uang? Itu mungkin faktor kesekian. Faktor utamanya, karena dengan jadi pengusaha bisa memberdayakan sekitar. Secara nyata bisa berdampak. Gue tidak sedang merendahkan profesi apapun. Tapi saat gue merasakan bekerja, gue juga merasa hidup gue bener-bener ngepas sama kebutuhan gue aja, bahkan buat keluarga sendiri belum banyak membantu. Kalimat ini sering banget ada di kepala gue, "Kenapa sih kita harus terima aja dengan kondisi pas-pasan disaat kita bisa berbuat lebih? Kenapa sih menjadi kaya kok udah kayak dosa yang malah orang-orang takut untuk mengakui mereka ingin kaya?"

Pengen nggak sih berkontribusi untuk sekitar kayak, nyumbang ambulance gratis? Bikin perpustakaan di daerah? Jadi sumber rezeki orang lain? Membuka lapangan kerja? Meningkatkan kesejahteraan pekerja lokal? Ngga pengen? Emang ngga semua orang pengen sih hehe. Tapi itu sebagian dari cita-cita terbesar gue. Tinggi banget ya mimpinya, kalo ngga terwujud gimana? Sakit pastinya :') tapi gue juga nggak berpangku tangan kok. Gue tau gue punya mimpi yang besar. Gue punya tanggung jawab untuk mewujudkan hal itu. Makanya kalo kalian nggak sengaja iseng baca blog ini, minta doanya ya?

Kalian bisa jadi apapun dan bisa berkontribusi dengan cara apapun yang kalian inginkan, dan bagi gue, dengan cara itulah gue ingin berkontribusi. Gue bukan vlogger, dan bukan tipe orang yang akan berprofesi sebagai blogger karena gue nggak pede untuk bicara di depan umum. Vlogger bisa berkontribusi dengan cara menyebarkan kebaikan dan hal positif di setiap vlog-vlog yang dibuat. Gue bukan penulis lagu yang bisa mendidik anak-anak dari lagu yang dinyanyikan. Gue bukan orang "sosial" yang jago bersosialisasi, berjiwa volunteer tinggi, karena gue takut keramaian. Intinya, kita bisa tetap berkontribusi dengan cara apapun. Termasuk bersungguh-sungguh dalam pekerjaan yang lo pilih saat ini.

Bicara tentang melawan arus, yang gue maksud di sini adalah ketika hal yang gue inginkan berbeda dengan kebanyakan orang. Tetap teguh dan bertahan untuk melawan arus itu bukan hal yang mudah. Apalagi ketika ngeliat temen-temen "kayaknya" udah stabil sama pekerjaannya masing-masing, dan di sini gue masih aja berusaha ngejar passion (btw pengen ngeblog juga ah tentang passion).

Ini bulan Agustus, gue penasaran bulan Agustus 2019 gue udah jadi apa. Gue akan balik lagi untuk baca postingan ini di tahun depan (Semoga panjang umur ya Allah, aaamiin).


See ya!




Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Comment?