Minggu, 28 Oktober 2018

Aku adalah Pecundang yang Selalu Gagal

Dulu, gue sempet mikir bahwa hal ini bukanlah apa-apa. Bukan sesuatu yang besar untuk dipermasalahkan. Tapi, seiring bertambahnya usia, dan tentunya dengan segala hal yang terjadi di dalam hidup gue. Gue jadi semakin sadar bahwa hal ini sangat penting.

Privasi.

Ruang sendiri.

Hal yang selalu dibutuhkan oleh manusia, tapi sering didobrak oleh manusia lainnya.

Menurut gue, sebagai manusia udah sewajarnya kita ngasih batas ke orang-orang. Misalnya, si A hanya bisa tau lo 10%, sementara lo mengizinkan si B untuk tau lo sampe 50%. Tapi, lo tetap berteman baik dengan keduanya, hanya aja B sedikit lebih mengenal lo.

Jika lo mengizinkan A hanya tau 10%, maka A tidak berhak untuk tau lebih dari itu.

Sebenarnya, seseorang aja belum tentu mengenal dirinya 100%. Lantas, sebagai orang lain mengapa kita merasa berhak mengetahui tentang diri mereka sejauh itu?

Ada hal-hal yang menurut orang lain biasa, tapi menurut yang lainnya enggak. Misalnya aja, lo adalah seorang cowok yang suka ngegym, eh tapi diem-diem lo suka masak. Lo nggak mau temen-temen lo tau lo suka masak karena bisa menurunkan tingkat maskulinitas dalam diri lo. You keep that as your privacy. Nggak masalah.

Hal-hal yang biasa tadi, ketika lo dobrak, tentu orang yang berada dalam ruang privasi itu bakal merasa terganggu. Sebenarnya, kalo kita memposisikan diri sebagai teman si cowok yang suka ngegym tadi, masalah nggak sih kalo dia nggak ngasih tau dia suka masak? Engga kan?

Setiap orang butuh ruang sendiri. Sesederhana apapun alasannya. Ada ruang yang sebaiknya nggak lo dobrak, yang sebaiknya nggak lo masukin. Toh lo nggak akan rugi, dan privasi orang tersebut ngga merugikan siapapun.

Kadang, hal yang amat sepele kayak gini pun banyak yang ngga paham. Terlebih lagi ketika kita udah merasa deket sama seseorang. Kita merasa berhak tau semua hal atas seseorang tadi tanpa memedulikan lagi hak pribadinya.

Apa gue pernah melampaui batas itu? Iya! Gue pernah dan gue akui dulu pemahaman gue belum sampe situ. Makanya, sekarang gue nulis kayak gini.

Dan, gue adalah pecundang...

Orang yang selalu gagal memiliki ruang sendirinya.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Comment?