Senin, 06 April 2020

When Life Is Getting Harder

Katanya aku sosok mandiri, yang tegas, dan keras.

Kujawab iya.

Aku memang seperti ini.

Keadaan seringkali memaksaku untuk tegas.

Tapi, kelemahanku tidak pernah bisa tegas untuk mengambil keputusan pribadi.

Tidak pernah kubayangkan sebelumnya, bahwa aku akan secepat ini untuk berada di posisi managerial. Ya, meskipun ini bukan perusahaan besar.

Aku tidak boleh mengeluh, katanya.

Tapi aku lelah.

Aku butuh orang untukku bersandar.

Aku memang terlihat kuat, tapi aku juga butuh rasa sayang dan rasa aman tanpa kekhawatiran apapun.

Aku butuh pelukanmu, barang lima menit saja.

Aku ingin percaya bahwa masih ada yang bisa menguatkanku.

Aku merasakan tekanan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Sulitnya menjadi leader. Sulitnya dibenci banyak orang tapi kamu harus tetap bertahan untuk kehidupanmu.

Aku harus menutup telingaku rapat-rapat, atau aku akan stress mendengar semua omongan orang lain.

Seringkali aku keluar dari ruangan, menuju toilet, menangis sendirian. Karena tidak ada siapapun yang mengerti posisiku. Tidak ada siapapun yang akan mengerti betapa beratnya beban pekerjaanku.

Tidak akan ada yang mengerti bahwa aku tidak bisa mendengar omongan orang tentangku. Aku adalah orang yang paling takut akan penghakiman. Bahkan sampai anxiety menyerang.

Aku ingin menceritakan kepadamu tentang hal ini.

Namun terakhir kali aku menangis karena aku merasa semua hal ini membebaniku, alih-alih memelukku, kamu malah asik dengan ponselmu dan tersenyum untuk orang lain di balik layar ponselmu itu.

Sebesar apapun keinginanku untuk menceritakan semuanya kepadamu, justru kamulah orang yang menjadi "hakim" dalam hidupku. Justru kamu lah yang menunjukkan jarimu kepadaku dan menuduhku melakukan banyak hal yang tidak aku lakukan.

Justru kamu lah orang yang paling sering memaki dan menyalahkanku disaat aku sangat membutuhkan seseorang sebagai support.

Bagaimanapun, aku tetap menginginkan yang terbaik. Aku tetap menginginkan timku bisa belajar banyak hal di sini. Aku berusaha sebisa mungkin, semampuku.

Di saat aku berada dalam keadaan sulit, dan terus mempertahankanmu. Ternyata dengan tega kamu melakukan hal yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Tapi bagaimana bisa?

Bagaimana bisa kamu tersenyum di saat aku merasakan kesedihan yang begitu mendalam?

Bagaimana bisa kamu tersenyum dan melihatku seperti biasa seolah tidak ada yang salah?

Bagaimana bisa kamu menyembunyikan wajahmu itu?

Bagaimana bisa kamu hidup dengan tenang sedangkan aku berjuang setiap hari melawan depresi ini?

Lebih baik kamu menusukku langsung dengan pisau jika memang membenciku.

Aku rasa aku bisa sembuh dalam 2 bulan. Luka itu akan hilang, dan aku akan melupakan sakitnya.

Tapi, ternyata luka dan rasa sakit ini akan kubawa seumur hidupku.

Kuharap kamu mengerti bahwa ini bukan kesalahan, tapi kesengajaan.

Kesengajaanmu itulah yang tidak akan bisa kumengerti sampai kapanpun..

Pun orang yang selama ini kau gadang-gadang dan tuduhkan punya hubungan khusus denganku, tidak ada......

Kamu yang berasumsi.

Aku yang berhasil menemukan fakta.

Aku harap kamu tidak berpikir bahwa ini kesalahan kecil yang bisa kumaafkan sembari kita berbincang dan minum segelas teh.

Di saat seperti ini, yang kuharap kamu akan selalu ada dalam setiap kesulitanku, ternyata tidak begitu..

Kamu lebih tertarik dengan rasa bahagia baru.... Orang baru yang membuat jantungmu berdegup kencang, persis seperti yang kulakukan dulu.

Kamu tidak berada di sisiku saat aku kesulitan. Justru kamulah kesulitan itu.

Jika suatu hari tanpa sengaja kamu membaca ini...

Tolong, berhentilah menghakimi dan menyalahkanku atas semua kesalahan yang sudah kamu lakukan itu. Akui kesalahanmu.

Aku sudah cukup menderita untuk melawan rasa sakit ini setiap hari..

Setiap hari...

Setiap pagi..

Setiap aku membuka mataku..

Rasa sakit ini akan terus membayangiku.

Dan kamu, di sana, tersenyum dengan yang lain. Menjalankan semua hal yang telah kita rencanakan, dengan orang lain.

Selamat.



































Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Comment?