Minggu, 17 Mei 2020

Faktanya Begitu..

Aku tau sekarang kamu sudah memiliki kehidupan yang (mungkin) jauh lebih membahagiakan dari sebelumnya.

Aku hanya tidak bisa berhenti memikirkan mengapa kamu bisa melanjutkan semua rencana kita dengan orang lain?

Mengapa kamu bisa memaklumi semua yang ada di dirinya tapi tidak begitu kepadaku?

Mungkin memang aku dan kamu memandang cinta diantara kita sebagai sesuatu yang berbeda.

Aku merasakannya terlalu dalam dan terlalu berharga.

Kamu memandangnya sebagai sesuatu yang dangkal.

Aku memandangnya sebagai hubungan yang akan kujalani bahkan hingga 20 tahun ke depan.

Kamu hanya memandangnya hubungan yang bisa ditinggalkan kurang dari 2 tahun.

Aku memikirkannya terlalu serius. Salahku.


Memang sebaiknya anggap semua kesalahanku saja, supaya aku bisa ikhlas.

Sadarku, benar-benar ingin melupakan semuanya.

Orang beserta semua kenangan di dalamnya.

Tapi alam bawah sadarku masih menolaknya.

Kamu tahu aku hubungan aku dan papaku menyisakan rasa trauma yang masih aku bawa, yang terjadi belasan tahun. Kamu tahu kamu tidak bisa menyakitiku seperti ini, kamu tahu aku akan membawanya bertahun-tahun mendatang. Tapi kamu tetap melakukannya. Demi siapa?

Mengapa kamu tetap tega melakukannya dan tidak pernah menyesal atas apa yang kamu lakukan?? Aku harap dengan kehidupan kamu sekarang kamu bisa mengerti bahwa kamu harus memisahkan kehidupan profesional dan pribadi.

Mengapa kamu bersikeras untuk mendapatkanku jika pada akhirnya kamu sendiri yang akan meninggalkanku seperti ini dan malah berjuang untuk orang lain?

Bagaimana bisa kamu mencintai orang lain sesingkat dan semudah itu? Dan mengapa bersikeras menutupi semuanya sampai akhir agar aku tidak pernah tahu? Untuk apa?

Ah, mau sebanyak apapun kalimat yang kutulis, memang tidak akan berpengaruh apapun.

Karena dihatimu hanya tersisa rasa benci untukku.

Tidak, aku tidak mungkin mendoakan kebahagiaan untukmu. Kamu sudah menghancurkan hidupku.

Tuhan Maha Membolak-balikan Hati.

Jika suatu hari nanti Tuhan menyelipkan sedikit saja memoriku saat bersamamu.

Aku harap kamu ingat ini.

Aku tidak pernah mencintai "orang" lain.

Aku tidak pernah memiliki memori dengan "orang" lain.

Kecuali kamu.

Itu sebab mengapa semua ini menjadi sia-sia.

Kamu memiliki "memori" dengan orang lain.

Siapa orang yang begitu hebatnya menerima semua keadaan seperti ini?

Ini bukan sakit hati biasa. Tidak akan ada orang biasa yang bisa membayangkannya.

Pun kamu.

Aku harap kamu punya kontrol atas diri sendiri.

Tidak semua yang aku pikirkan, aku lakukan. Itu karena aku mengontrol diriku.

Sebaiknya pun kamu begitu.

Tidak semua yang kamu pikirkan harus kamu lakukan. Tidak semua yang kamu suka harus kamu miliki. Terkadang kamu harus belajar dengan kata cukup dan tidak serakah menginginkan semuanya.

Jika dari awal niatmu hanya berteman, sekarang pun kalian hanya teman. Tapi? Kamu tahu sendiri jawabannya.

Jika aku yang berselingkuh, kamu pasti sudah habis menyakiti diri sendiri, bukan hanya sekedar membenturkan kepalamu ke tembok. Mungkin kamu sudah memotong urat nadimu sendiri.

Karena rasanya lebih baik terlepas dari rasa sakit dibandingkan membawa rasa sakit ini setiap hari, di setiap helaan napas.












Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Comment?